logo etawaku
Search
Close this search box.

Minum Obat Setelah Minum Susu, Apakah Boleh?

“Jangan minum obat setelah minum susu, ya!”

Mungkin kamu cukup familiar dengan pendapat itu? Tapi, apakah hal itu valid secara medis? Benarkah minum obat setelah minum susu bisa membuat efek samping yang berbahaya? Simak fakta lengkapnya dalam artikel ini!

Susu termasuk dalam salah satu jenis minuman sehat yang sering kita konsumsi. Kandungan gizi yang ada dalam susu dinilai mampu memenuhi kebutuhan harian tubuh.

Namun, jadwal konsumsi susu harus diperhatikan jika kamu sedang mengonsumsi obat. Pasalnya, kandungan kalsium, magnesium, serta kasein yang ada pada susu justru bisa mengganggu proses penyerapan dan pembuangan zat sisa dari pengolahan obat di dalam tubuh.

Hal itu bisa menurunkan efektivitas kerja obat dalam mengatasi penyakit karena susu bisa menetralkan zat yang ada dalam obat.

Setelah Minum Susu Apakah Boleh Minum Obat?

Setelah Minum Susu Apakah Boleh Minum Obat

Sampai sini mungkin kamu jadi ragu-ragu dan berpikir untuk tidak mengonsumsi susu ketika sedang mengonsumsi obat tertentu ya?

Mengenai hal itu, jawabannya yakni boleh saja tetap minum susu meskipun sedang mengonsumsi obat, selama kita memberikan jeda waktu antara minum susu dengan konsumsi obat.

Jeda waktu ini akan membuat lambung memproses susu agar dicerna dengan sempurna, sehingga tidak ada interaksi yang menyebabkan efektivitas kerja obat terganggu.

Jarak Minum Obat Setelah Minum Susu

Nah, susu bisa dicerna secara sempurna oleh tubuh dalam waktu dua jam. Maka dari itu, sebaiknya kamu memberi jarak waktu untuk mengonsumsi obat selama 2-4 jam setelah minum susu ya!

Dari pemaparan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya boleh-boleh saja untuk mengonsumsi obat setelah minum susu, asalkan memberikan jeda waktu di antaranya.

Obat yang Boleh Diminum Setelah Minum Susu

Ada beberapa jenis obat yang aman dikonsumsi dengan susu, bahkan bisa memaksimalkan proses penyerapan di dalam tubuh, seperti:

1. Kortikosteroid

Ini merupakan obat yang digunakan untuk meredakan peradangan, seperti asma, iritasi lambung, radang sendi, hingga penyakit autoimun.

Obat ini memiliki efek samping yang bisa meningkatkan berat badan. Minum susu setelah mengonsumsi jenis obat ini bisa membantu membuat kadar kalium meningkat, sehingga bisa mencegah retensi cairan yang bisa menyebabkan peningkatan berat badan.

Tak hanya karena itu, mengonsumsi obat kortikosteroid juga seringkali menghilangkan kalsium. Maka dari itu, diperlukan bahan makanan yang bisa mengganti kalsium yang hilang, salah satunya susu.

2. NSAID dan Aspirin

Penggunaan obat jenis nonsteroidal anti-inflamasi (NSAID) serta aspirin untuk meredakan nyeri bisa menyebabkan peradangan pada lapisan lambung (gastritis).

Untuk itu, kamu bisa minum susu setelah konsumsi obat ini sebagai upaya pencegahan efek samping yang lebih buruk.

3. Obat HIV

Kamu bisa minum obat HIV seperti ritonavir dan nelfinavir yang dicampurkan dengan susu agar rasanya lebih enak ya! Hal ini tidak memberikan efek samping negatif atau mengurangi efektivitas obat.

Konsumsi obat HIV justru memerlukan makanan di dalam perut. Maka dari itu, minum susu bersamaan dengan obat HIV bisa membantu proses penyerapan obat dalam aliran darah menjadi lebih baik. 

Akan tetapi, perlu diperhatikan juga karena beberapa jenis obat terdapat perintah, “Take it with empty stomach.” ya. Artinya, kamu perlu memberi jeda beberapa jam antara minum susu dengan konsumsi obat.

Baca Juga: Harga Susu Etawaku di Apotik?

Obat yang Dilarang Diminum Setelah Susu

Lain halnya dengan ketiga jenis obat di atas, beberapa jenis obat tidak boleh dikonsumsi setelah minum susu. Hal ini disebabkan karena kandungan dalam obat tersebut bisa berinteraksi dengan susu, sehingga bisa menimbulkan dampak yang merugikan.

Jadi, pastikan kamu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk tetap minum susu ya!

Nah, beberapa golongan obat yang dilarang dikonsumsi setelah minum susu yaitu sebagai berikut:

1. Antibiotik Tetrasiklin

Obat yang memiliki banyak fungsi, mulai dari mengatasi jerawat, malaria, hingga infeksi bakteri ini bisa berikatan dengan zat besi dan kalsium dalam susu.

Konsumsi antibiotik tetrasiklin setelah minum susu bisa menyebabkan pembentukan ikatan yang tidak larut, serta mengurangi kadar obat dalam darah. Akibatnya, fungsi antibiotik dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan dalam tubuh menjadi berkurang.

2. Kuinolon

Obat ini termasuk ke dalam antibiotik yang sering digunakan untuk mengatasi infeksi saluran kemih. 

Minum susu dan konsumsi kuinolon dalam waktu yang terlalu dekat bisa mengurangi efektivitas kerja obat, karena kalsium dan kasein dalam susu bisa menyebabkan kadar antibiotik dalam tubuh berkurang.

3. Penisilin

Penisilin merupakan antibiotik yang efektif dalam mengatasi berbagai infeksi bakteri, seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi telinga, atau demam reumatik.

Pada anak-anak, konsumsi obat ini setelah minum susu bisa menurunkan kadar antibiotik hingga 40-50% loh! Maka dari itu, kamu sangat disarankan untuk memberi jeda sebelum minum antibiotik ini setelah minum susu.

4. Laksatif

Laksatif merupakan jenis obat yang digunakan untuk membantu mengatasi sembelit yang tidak boleh dikonsumsi berdekatan setelah minum susu. Konsumsi obat ini setelah minum susu bisa menurunkan tingkat keasaman lambung. 

Alih-alih larut dalam saluran cerna dan melancarkan BAB, obat ini justru larut dalam lambung, sehingga bisa menyebabkan iritasi dan muncul rasa nyeri pada ulu hati.

5. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS)

Konsumsi obat OAINS untuk mengatasi demam, nyeri, serta radang setelah mengonsumsi susu bisa memicu asam lambung. 

6. Paroxetine

Ini merupakan obat antidepresan yang bisa digunakan dalam mengatasi gangguan mood dan kecemasan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi susu sebanyak 1 liter bisa mengurangi penyerapan paroxetine dalam tubuh hingga 40 persen.

7. Mercaptopurine

Kandungan xantin oksidase dalam susu bisa membuat mercaptopurine menjadi tidak aktif, sehingga fungsi obat ini dalam mengatasi kanker darah menjadi tidak optimal.

8. Obat Antikanker dan Suplemen Zat Besi

Penggunaan obat antikanker serta suplemen zat besi sebaiknya tidak dibarengi dengan konsumsi susu. Pasalnya, ada beberapa zat dalam susu yang bisa berikatan dengan obat ini, sehingga membuat efektivitasnya menurun.

Efek Minum Obat Setelah Minum Susu

Bayangkan suatu ketika kamu lupa minum obat setelah minum susu. Lalu kamu bertanya-tanya apa yang akan terjadi? Apakah hal itu bisa memberikan efek samping yang berbahaya dan mengancam nyawa?

Jawabannya adalah tidak. Hanya saja, minum obat setelah minum susu memang bisa menyebabkan interaksi yang bisa memicu beberapa efek samping seperti:

  • Membuat kerja obat menjadi tidak maksimal. Namun, konsumsi obat tertentu setelah minum susu justru bisa membuatnya semakin optimal.
  • Menimbulkan efek samping obat menjadi lebih ringan, atau justru menambah efek samping baru.
  • Menghambat proses penyerapan obat
  • Menurunkan metabolisme obat dalam tubuh
  • Mempersulit pengeluaran zat sisa obat dari dalam tubuh.

Jadi kesimpulannya, minum obat setelah minum susu sebenarnya dibolehkan, asalkan tetap memperhatikan kandungan dalam obat, memberikan jeda waktu selama beberapa jam, dan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Baca Juga Artikel Lainnya: Susu untuk Pemulihan Setelah Sakit.

Beli Susu Etawaku Platinum

Bicara soal minum susu, sudahkah anda mengonsumsi Susu Kambing Etawa?

Produk kami, Susu Etawaku Platinum menggunakan susu murni dari kambing etawa asli (bubuk) yang memiliki berbagai manfaat, mulai dari untuk menjaga kekuatan tulang sendi, mengatasi masalah pernapasan, hingga bermanfaat sebagai sumber energi harian tubuh.

Selain dari manfaatnya, kelebihan lain dari Etawaku Platinum yaitu susunya lebih mudah dicerna (cocok untuk anda yang alergi susu sapi), rendah gula, dan memiliki kandungan nutrisi 3x lebih banyak dari susu sapi.

Semoga artikel ini bermanfaat ya! Yuk, ikut berkontribusi dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat dengan cara share artikel ini ke semua sosial media kamu ya!

Photo of author

Isna Hardikasari

Tinggalkan komentar