logo etawaku
Search
Close this search box.

Susu yang Tidak Dipasteurisasi: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contoh

Bicara soal susu, tentu kamu sudah tidak asing dengan susu pasteurisasi, bukan? Tapi selain itu, ternyata ada juga loh susu yang tidak dipasteurisasi. Wah, apa bedanya ya? Yuk simak dalam artikel ini untuk mengetahui ciri-ciri serta contohnya!

Pernahkah kamu mencoba susu sapi segar yang baru diperah? Nah, susu segar itu adalah jenis susu yang tidak dipasteurisasi. Sedangkan, rata-rata produk susu kemasan yang bisa dengan mudah ditemui di pusat perbelanjaan adalah susu yang telah melewati proses pasteurisasi. 

Mungkin sampai sini kamu bingung ya, sebenarnya apa sih pasteurisasi itu?

Singkatnya, pasteurisasi merupakan proses menghangatkan susu yang bertujuan untuk membunuh bakteri yang terkandung di dalamnya. Sebut saja bakteri tersebut adalah Salmonella, E. coli, serta Listeria. 

Dari situ, munculah banyak pertanyaan, bagaimana jika susu yang tidak dipasteurisasi diminum? Mengingat susunya tidak melalui proses penghilangan bakteri.

Sebagaimana kita ketahui, apabila bakteri tersebut ikut terkonsumsi, maka bisa menimbulkan berbagai gangguan saluran pencernaan, seperti demam, diare, kram perut, hingga keracunan makanan. Menyeramkan bukan? 

Itulah mengapa produk susu membutuhkan proses pasteurisasi agar bakteri yang ada di dalamnya tidak ikut terkonsumsi. Ada beberapa metode pasteurisasi yang bisa dilakukan, yaitu:

pengertian, ciri, dan contoh susu yang tidak dipasteurisasi
  • Pasteurisasi HTST (High Temperature, Short Time) dengan cara memanaskan susu pada suhu 72°C atau 163°F selama 15 detik, lalu didinginkan dengan cepat. Metode ini bisa menambah masa penyimpanan susu hingga 2-3 minggu dalam lemari pendingin. 
  • Pasteurisasi LTLT (Low Temperature, Long Time) dengan cara memanaskan susu pada suhu 65°C selama 30 menit, kemudian dinginkan sesuai suhu yang diinginkan. Metode ini lebih jarang dilakukan. 

Ciri Susu Pasteurisasi Adalah

Secara kasat mata, mungkin susu pasteurisasi dan tidak dipasteurisasi memiliki warna dan tampilan yang sama. Akan tetapi, ada beberapa hal yang membedakan antara susu pasteurisasi dengan susu yang tidak melewati proses pasteurisasi. 

Beberapa ciri susu pasteurisasi adalah sebagai berikut:

1. Waktu Penyimpanan Lebih Lama

Susu pasteurisasi telah melewati tahap pemanasan untuk menghilangkan kontaminasi bakteri. Oleh karena itu, masa penyimpanan susu pasteurisasi bisa lebih lama jika dibandingkan dengan susu tanpa pasteurisasi. 

2. Disimpan di Lemari Pendingin

Meskipun bakteri dalam susu pasteurisasi sudah tidak aktif, namun susu jenis ini masih perlu disimpan dalam lemari pendingin. Pasalnya, susu pasteurisasi hanya bisa bertahan 4-5 jam di suhu ruang. 

Sementara itu, produk susu pasteurisasi dalam kemasan yang dibuka bisa bertahan selama tiga hari saja. Sebagai saran, kamu bisa menyimpan susu pasteurisasi di suhu 2-6 derajat Celcius ya!

3. Tekstur dan Kandungan Tidak Banyak Berubah

Meskipun melewati proses pemanasan, namun susu pasteurisasi tidak banyak mengalami perubahan tekstur serta kandungan, sehingga kandungan vitamin yang ada dalam susu pasteurisasi tidak banyak terbuang. 

Selain susu pasteurisasi, mungkin kamu juga sering mendengar susu UHT ya? Ultra high temperature (UHT) juga merupakan salah satu metode sterilisasi susu dengan suhu yang sangat tinggi, yaitu 135-145°C selama 2-4 detik. 

Metode ini bisa membunuh bakteri patogen sekaligus bisa memperpanjang masa penyimpanan susu, bahkan di suhu ruang tanpa menggunakan lemari pendingin. 

Contoh Susu yang Tidak Dipasteurisasi

Kebalikan dari susu pasteurisasi, susu yang tidak dipasteurisasi merupakan produk susu yang tidak melewati proses apapun. Jadi, ini adalah nama lain dari susu mentah

Karena tidak melewati proses pemanasan, susu ini memiliki risiko lebih tinggi untuk terkontaminasi bakteri. Sehingga, kamu bisa lebih rentan mengalami keracunan makanan. 

Mengenai contoh, kamu tentu bisa menyebutkan dengan mudah, seperti susu kambing, susu sapi, susu domba, maupun berbagai jenis susu lainnya yang masih mentah tanpa melewati proses pemanasan.

Maka dari itu, kamu disarankan untuk memilih susu pasteurisasi atau susu UHT saja ya!

Baca Juga: Minum Susu Setelah Makan Pedas, Apa Boleh?


Etawaku Platinum, Pilihan Tepat Susu Kambing Kaya Manfaat

Setelah mengetahui bahaya dari susu mentah, tentu kamu akan memilih jenis susu yang melewati proses pemasakan sehingga minim risiko kontaminasi, bukan? Maka dari itu, kamu perlu memilih produk susu yang telah dijamin keamanan dan kualitasnya. 

Etawaku Platinum menjadi produk rekomendasi susu kambing yang memiliki banyak manfaat, karena terbuat dari susu kambing murni yang kaya akan nutrisi. 

Proses produksi susu Etawaku Platinum juga telah memenuhi standar keamanan, sehingga bisa dikonsumsi oleh semua kalangan tanpa menyebabkan efek samping, seperti reaksi alergi atau intoleransi laktosa. 

Etawaku Platinum telah mendapatkan izin edar dari BPOM serta sertifikat halal dari MUI. Jadi, kualitasnya tidak perlu diragukan lagi ya!

Yuk mulai konsumsi susu Etawaku Platinum dari sekarang untuk mendukung kesehatanmu kini dan nanti!

Rekomendasi Artikel: Susu Kambing untuk Batuk Berdahak.

Jika masih ada yang ingin ditanyakan seputar susu yang tidak dipasteurisasi, kamu bisa menanyakan via komentar di bawah, ya!

Photo of author

Isna Hardikasari

Satu pemikiran pada “Susu yang Tidak Dipasteurisasi: Pengertian, Ciri-ciri, dan Contoh”

Tinggalkan komentar